Arsip Penulis: zaniamut

Facebook Khawatir Kontennya Benar Pengaruhi Hasil Pemilu AS

CEO Facebook Mark Zuckerberg telah membantah bahwa algoritma News Feed di media sosialnya turut andil memenangkan Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat (AS). Namun tim internalnya berkata lain, bahkan disebut-sebut langsung menggelar rapat khusus masalah ini.

Sumber yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa tim internal Facebook mulai khawatir dengan cara News Feed Facebookn menyajikan konten.

Sejumlah eksekutif Facebook pun merasakan kekhawatiran yang sama. Mereka memutuskan bahwa tim mesti menyelidiki kemungkinan masalah tersebut dan meredakan kekhawatiran yang merebak di kalangan pegawai.

Baca: Algoritma Facebook Bikin Donald Trump Menangi Pemilu AS?

Informasi yang dirangkum KompasTekno dari New York Times, Senin (14/11/2016), tiga orang sumber yang enggan disebutkan namanya bahkan mengaku melihat para eksekutif langsung mengadakan rapat kecil dengan tim kebijakan perusahaan.

Seperti diketahui, belakangan ini di dunia maya ramai beredar dugaan Facebook berperan dalam memenangkan Trump. Alasannya adalah filter bubble atau cara kerja algoritma untuk menyajikan konten News Feed.

Algoritma News Feed berusaha menemukan artikel yang memiliki interaksi tinggi, dan menyodorkannya, tak peduli apakah kabar itu berita positif atau negatif. Artinya, bila pengguna mengklik artikel tertentu, dan dianggap menyukainya, maka selanjutnya News Feed bakal menampilkan artikel sejenis.

Algoritma ini bekerja tanpa membedakan apakah artikel yang disodorkan itu fakta atau ternyata keliru.

Soal kemungkinan filter bubble ini juga mendapat tanggapan dari associate profesor di University of North Carolina, Zeynep Tufekci. Dia mencontohkannya dengan keramaian yang terjadi pada sebuah artikel hoax atau palsu.

“Ada sebuah cerita fiktif yang mengklaim Paus Fransiskus mendukung Trump. Cerita itu dibagikan lebih dari sejuta kali, dan diprediksi dilihat oleh lebih dari 10 juta orang,” ujar Zeynep.

“Sementara itu artikel yang mengoreksi cerita fiktif itu sama sekali tidak terdengar. (Melihat hal ini) tentu saja Facebook memiliki pengaruh terhadap hasil Pemilihan Umum Presiden AS lalu,” imbuhnya.

Bantahan Mark Zuckerberg

CEO Facebook Mark Zuckerberg sendiri menulis sebuah status panjang sebagai bantahan dari segala tudingan yang beredar. Menurutnya, artikel hoax yang beredar di jejaring sosialnya sangat sedikit. Bahkan terlalu sedikit untuk memberi pengaruh.

“Dari seluruh konten di Facebook, lebih dari 99 persen yang dilihat orang adalah konten yang otentik. Jumlah berita palsu dan hoax justru sangat kecil. Karena itu, sangat tidak mungkin sebuah hoax bisa mengarahkan hasil Pemilihan Umum,” tulis Mark.

“Saya sangat yakin bahwa kita bisa menemukan cara agar komunitas bisa memberitahukan konten mana yang paling bermakna. Tapi saya juga yakin bahwa kita perlu sangat berhati-hati agar diri kita tidak menjadi orang yang memutuskan kebenaran,” imbuhnya.

Iklan

Pemeran “Silicon Valley” Diserang karena Menentang Trump

Dua pemeran film serial Silicon Valley, Kumail Nanjiani dan Thomas Middleditch, tiba-tiba dihampiri dua orang pemuda kulit putih berusia 20-an tahun ketika sedang berada di dalam sebuah bar di kota Los Angeles, AS, akhir minggu lalu.

Kedua pemuda tersebut rupanya ingin mengajak berdebat karena tidak suka dengan sikap politik Nanjiani dan Middleditch yang dikenal sebagai penentang Presiden terpilih AS, Donald Trump.

Namun, Nanjiani tak mau melayani ulah mereka. “Hei, kami tidak mau berdiskusi soal politik sekarang,” kicau Nanjiani di Twitter, mengulangi ucapannya malam itu, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari USA Today, Senin (14/11/2016).

Penolakannya malah berbuah ejekan dari kedua pemuda pendukung Trump yang mulai berteriak dan mendekati Nanjiani. Middleditch yang berusaha menghentikan tindakan agresif itu malah diajak berkelahi.

Beruntung, sebelum situasi menjadi makin panas, petugas bar menghampiri mereka, lalu mengusir kedua pemuda tadi ke luar bar.

Silicon Valley adalah serial TV yang ditayangkan di HBO yang bercerita seputar kehidupan startup teknologi di AS. Seperti diketahui, mayoritas perusahaan teknologi di AS memang berseberangan dengan cara pandang Donald Trump selama kampanye.

Baca: 5 Isu yang Dihadapi Perusahaan Teknologi Setelah Trump Jadi Presiden

Berbau rasial

Insiden tersebut diduga dilatarbelakangi rasialisme karena Nanjiani adalah komedian asal Pakistan yang bertampang Asia. Dia besar di kota Karachi, lalu pindah ke AS saat kuliah dan kini memiliki dua kewarganegaraan.

Nanjiani menyayangkan peristiwa tersebut bisa terjadi di Los Angeles yang dikenal sebagai kota liberal. Lokasinya pun tidak sepi, tetapi ramai dengan pengunjung ketika itu.

“Saya tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya menjadi orang yang berpenampilan seperti saya di wilayah lain negeri ini,” ucapnya.

Semenjak Trump memenangi pemilu AS, Rabu pekan lalu, gelombang serangan berbau hate crime yang dilatarbelakangi kebencian berbasis SARA telah melanda Negara Paman Sam.

Para pelakunya disinyalir memperoleh justifikasi dan berani muncul ke permukaan karena menganggap tindakan mereka sesuai dengan pandangan Trump terhadap politik dan masyarakat AS.

Sang presiden terpilih itu memang sering menyuarakan kebencian terhadap golongan minoritas di AS ketika berkampanye.

Taksi Blue Bird Bakal Bisa Dipesan lewat Aplikasi Go-Jek

Kerja sama antara Go-Jek dan Blue Bird nampaknya bakal segera terwujud dalam waktu dekat. Pasalnya, sebuah aplikasi bernama GoBird Driver sudah muncul di toko aplikasi Google Play Store.

Di dalam aplikasi tersebut, terdapat keterangan yang menyebutkan bahwa aplikasi itu merupakan aplikasi khusus pengemudi taksi Blue Bird yang ingin mengambil pesanan dari pengguna aplikasi Go-Jek.

Pantauan KompasTekno, Senin (14/11/2016), aplikasi GoBird Driver dibuat oleh PT Go-Jek Indonesia. Dengan kata lain, aplikasi tersebut besar kemungkinannya adalah aplikasi resmi.

screenshot
Aplikasi GoBird Driver untuk pengemudi taksi Blue Bird yang ingin mengambil pesanan dari pengguna Go-Jek.
Ada juga keterangan yang menyebutkan bahwa pengemudi taksi Blue Bird yang memakainya bisa mengaktifkan atau menon-aktifkan aplikasi sesuka hati. Saat aktif, maka pengemudi bisa menerima pesanan dari pengguna aplikasi Go-Jek.

Namun keterangan di aplikasi GoBird Driver
tidak menjelaskan secara detail bagaimana cara konsumen melakukan pemesanan, apakah bakal terintegrasi dengan aplikasi Go-Jek atau melalui aplikasi Blue Bird sendiri yang terpisah.

Begitu juga saat KompasTekno, mengecek aplikasi Go-Jek versi 2.9.0 di Android, sama sekali tidak terlihat adanya tombol atau fitur baru. Sedangkan fitur lama yang bisa dipakai memesan kendaraan roda empat untuk penumpang hanyalah Go-Car.
Public Relations Manager Go-Jek, Rindu Ragilia mengonfirmasi bahwa GoBird Driver memang dibuat untuk pengemudi taksi Blue Bird yang nantinya bisa dipesan lewat aplikasi Go-Jek. Menurutnya, aplikasi itu saat ini belum bisa digunakan.

“Aplikasi itu (GoBird Driver) untuk mitra pengemudi Blue Bird yang akan digunakan nantinya ketika layanan kerja sama antara Blue Bird dan Go-Jek sudah jalan. Sekarang masih dalam proses sinkronisasi sistem, nanti kalau sudah mulai jalan kita akan memberikan informasi kepada pelanggan,” terang Rindu saat dihubungi KompasTekno, Senin (14/11/2016).

Sebelumnya, Go-Jek dan BlueBird memang telah menandatangani kesepakatan kerja sama khusus yang diumumkan Mei tahun ini. Kerja sama yang dimaksud dilakukan dalam aspek teknologi, sistem pembayaran, hingga promosi.

Baca: Apa Bentuk Kerja Sama Antara Blue Bird dan Go-Jek

Selain itu, Head of Public Relation Blue Bird, Teguh Wijayanto saat itu mengatakan akan ada kerja sama dalam hal pemesanan kendaraan. Bentuknya berupa sebuah tombol pemesanan taksi Blue Bird yang dimasukkan dalam aplikasi Go-Jek.

Menggandeng Blue Bird merupakan langkah cerdas Go-Jek. Pasalnya Blue Bird sudah memiliki izin operasi sebagai taksi resmi. Mobil-mobilnya pun berplat kuning dan rutin menjalani uji kir. Dua hal itulah yang selama ini masih menjadi perdebatan di layanan ride sharing, seperti Uber, Grab, atau Go-Car milik Go-Jek sendiri.

Di sisi lain, dari segi jumlah pengguna, aplikasi Blue Bird juga masih kalah populer jika dibandingkan dengan Go-Jek. Langkah ini bisa membuat Blue Bird menjangkau para pelanggan Go-Jek.

Membuka Kemasan Android “Layar Ganda” LG V20 di Jakarta

Awal September lalu, LG memperkenalkan V20, sebuah smartphone yang bakal menjadi andalan baru pabrikan asal Korea Selatan tersebut di segmen atas.

Ponsel high-end ini meneruskan tongkat estafet dari pendahulunya, V10, yang dirilis tahun 2015.

LG membenamkan sejumlah fitur unggulan pada V20, termasuk panel layar sekunder yang lebih kecil yang bertengger persis di atas layarutama, juga modul kamera utama dengan lensa ganda seperti yang terdapat pada ponsel seri G5 bikinan pabrikan yang sama.

Jeroannya pun terdiri dari deretan hardware berspesifikasi tinggi, termasuk chipset Snapdragon 820, RAM 4 GB, dan layar 5,7 inci beresolusi QHD.

V20 sekaligus menjadi smartphone pertama yang datang dengan sistem operasi Android 7.0 Nougat secara default, di luar ponsel seri Pixel besutan Google.

Tak lama setelah dirilis di pasaran internasional, LG kini tengah bersiap memboyong V20 ke Indonesia. Rencananya ia bakal hadir menjelang akhir 2016.

Baca: LG Bakal Rilis Android V20 Edisi Khusus Indonesia

KompasTekno berkesempatan mendapat LG V20 dalam kemasan ritel Korea Selatan. Pihak LG menjelaskan bahwa V20 yang nanti akan dipasarkan di Indonesia memiliki perbedaan berupa slot SIM card yang berjumlah dua buah, bukan hanya satu seperti pada versi Korea.

Selain itu, tidak ada perbedaan antara V20 yang dipasarkan di Indonesia dan di Korea Selatan, termasuk dari segi spesifikasi maupun kelengkapan paket penjualan.

LG memaketkan aksesori yang cukup komplit dalam kemasan V20, termasuk earphone berkualitas tinggi buatan vendor audio kenamaan Bang & Olufsen. Selain itu, apa lagi yang disertakan LG? Simak selengkapnya dalam rangkaian foto berikut.

Kaspersky Tuding Microsoft Hapus Antivirus Lain di Windows 10

CEO Kaspersky Lab, Eugene Kaspersky menuding Microsoft berbuat curang dalam penyebaran produk antivirus. Pasalnya, Microsoft mem-bundling software antivirus Windows Defender dalam OS Windows 10.

Tudingan Eugene diajukan berdasarkan perlakuan Microsoft terhadap antivirus buatan perusahaan lain. Menurut dia, saat pengguna memperbarui sistem operasi ke Windows 10, maka software antivirus buatan perusahaan selain Microsoft akan otomatis dihapus.

Penghapusan tersebut terjadi begitu saja, tanpa memedulikan pengaturan yang sebelumnya dipilih oleh pengguna. Setelah menghapus antivirus buatan perusahaan lain, Microsoft kemudian menyodorkan Defender, antivirus buatannya sendiri secara gratis untuk digunakan oleh pengguna Windows 10.

Masalah lainnya adalah, sistem operasi Windows 10 secara otomatis mengecek kecocokan setiap aplikasi yang terpasang. Aplikasi yang tidak cocok maka otomatis akan dimatikan.

Namun ada perlakuan berbeda untuk antivirus. Menurut Eugene, cocok atau tidak cocok, pengguna akan tetap dipaksa atau disarankan menghapus software antivirus di Windows 10. Sebagi gantinya ditawarkanlah Defender.

“Jika Anda memperbarui sistem operasi ke Windows 10, maka Microsoft secara otomatis, tanpa peringatan, akan menonaktifkan semua software keamanan yang tidak cocok dan sebagai gantinya memasang Defender,” terang Eugene sebagaimana dilansir KompasTekno dari TechTimes, Senin (14/11/2016).

“Tapi, bahkan saat software keamanan itu berhasil lolos seleksi dan dinyatakan cocok dengan Windows 10, ada saja hal yang aneh terjadi. Lalu dipasanglah Defender sebagai pengganti,” imbuhnya.

Maksud Eugene, aplikasi lain yang sudah lolos pengecekan mestinya tidak perlu dipermasalahkan. Tapi ketika sistem menemukan ada antivirus buatan perusahaan lain, tetap saja akan muncul peringatan bahwa Defender dalam keadaan mati dan meminta pengguna untuk mengaktifkannya.

Bos perusahaan antivirus Kaspersky itu pun akhirnya mengajukan keluhan resmi pada pemerintah Rusia, dengan tudingan bahwa Microsoft melakukan tindakan anti-persaingan. Dia juga berencana mengajukan gugatan serupa ke Uni Eropa.

Jika keluhan ini berhasil, Microsoft akan diminta untuk memberi penjelasan detail kepada pengguna. Penjelasan ini harus diberikan sebelum uprade ke Windows 10 dan berisi soal kecocokan aplikasi yang ada di dalam komputer pengguna.

Raksasa software itu juga harus meminta persetujuan pengguna sebelum mengaktifkan Defender, lalu memberikan waktu untuk para pengembang aplikasi yang perlu memperbaiki masalah ketidakcocokan dengan Windows 10.

400 Juta Akun Situs Kencan Dewasa Diretas, Terbesar pada 2016

Sebanyak 412 juta akun di sejumlah situs kencan dewasa telah diretas. Kasus ini oleh LeakedSource disebut sebagai yang terbesar dari segi jumlah akun yang dibobol, setelah kasus peretasan MySpace yang melibatkan 360 juta akun pada Juli lalu.

Beberapa situs kencan dewasa yang teridentifikasi telah dibobol adalah AdultFriendFinder, Cams.com, Penthouse, Stripshow, dan iCams.com. Semua situs berbau seks itu bernaung di satu perusahaan induk, yakni FriendFinder Networks.

Informasi soal peretasan pertama kali diumbar situs Leaked Sources, sebagaimana dilaporkan TechCrunch dan dihimpun KompasTekno, Senin (14/11/2016). Situs tersebut selama ini kerap menganalisis kasus-kasus peretasan di internet.

Vice President FriendFinder Networks Diana Ballou mengatakan, pihaknya telah menerima laporan soal kerentanan layanannya sejak beberapa minggu lalu. Pengguna layanan di bawah FriendFinder Networks diminta untuk mengganti password dan username.

“Kami akan mengkaji laporan-laporan yang masuk selama beberapa minggu terakhir. Kami telah bekerja sama dengan mitra eksternal untuk membantu investigasi lebih lanjut,” kata dia.

Bagaimana cara peretas membobol?

Peretas mengeksploitasi file lokal pada FriendFinder Networks melalui metode inklusi. Metode penyisipan file kontrol tersebut memungkinkan peretas mengambil alih akses administrator pada semua layanan di bawah FriendFinder Networks.

Alhasil, semua akun yang terdaftar beserta informasi di dalamnya bisa diintip dan disalahgunakan. Hingga saat ini, kata Leaked Sources, peretas masih dalam tahap menyimpan informasi akun tanpa menyebarnya ke publik.

Akun pada AdultFriendFinder disebut paling banyak diretas, yakni mencapai 300 juta akun, yang disimpan selama 20 tahun. Selanjutnya, Cams.com harus rela 62 juta akunnya dieksploitasi. Begitu juga dengan 7 juta akun pada Penthouse, 1,4 juta akun pada Stripshow.com, serta 1,1 juta akun pada iCams.

Belum diblokir di Indonesia

Di Indonesia, pantauan KompasTekno, beberapa situs ada yang bisa diakses, ada pula yang tidak. Masing-masing penyedia layanan internet memiliki kebijakan yang berbeda-beda.

“Ini adalah laman situs default untuk server ini. Software server situs ini bekerja, tetapi belum ada konten yang ditambah,” begitu pemberitahuan yang tertera saat KompasTekno membuka AdultFriendFinder, Penthouse, Cams, dan Stripshow.

Ketika dicek di situs Internet Sehat Kementerian Komunikasi dan Informatika, situs-situs tersebut sudah terindentifikasi sebagai situs porno. Namun, belum jelas apakah statusnya telah diblokir atau belum.

Biasanya, jika sudah diblokir, pemberitahuan yang muncul ketika membuka situs akan mengindikasikan bahwa akses sama sekali tak diizinkan.

Di Indonesia, Pangsa Pasar Terbesar Lenovo Ada di Wilayah Ini

Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi ternyata merupakan wilayah yang sangat penting bagi Lenovo. Di wilayah Jabodetabek ini pangsa pasar Lenovo dikatakan berpusat.

“Sejauh ini, market share terbesar Lenovo masih berada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi,” ujar Miranda Vania Warokka, Marketing Manager Lenovo Indonesia, kepada Kompas.com di Bandung, Sabtu (12/11/2016).

Baca: Merek Lenovo Bakal Dihapus, Diganti Moto?

Untuk wilayah tersebut, sambung Miranda, kontribusi pangsa pasar yang diberikan mencapai 35 persen hingga 40 persen.

Sadar pangsa pasar di wilayah tersebut terlalu besar, Lenovo berusaha untuk “memecahnya”. Salah satunya ke wilayah Jawa Barat, khususnya ke kota Bandung.

Menurut Miranda, Bandung merupakan kota yang cukup potensial. Untuk wilayah Jawa Barat sendiri, kontribusi pangsa pasarnya berada di posisi ke-5 bagi Lenovo.

Lewat produk Moto

Lenovo sendiri sudah punya strategi untuk membesarkan pangsa pasar di Jawa Barat. Salah satunya menggunakan Moto E3 Power yang baru saja dirilis beberapa waktu lalu.

Moto E3 Power sendiri saat ini memang baru dijual melalui situs jual beli online Lazada. Meski begitu, Lenovo, sebagai induk Moto, dikatakan sedang menyiapkan penjualan offline.

“Saat ini, Moto E3 Power ini eksklusif ditawarkan secara online. Strategi ini menggandeng Lazada. Nanti, penjualan offline akan kita garap,” tutur Miranda.

“Selama ini kita menjual cuma secara offline dan retail, kita juga melakukan penjualan secara online. Intinya, strategi bisnis yang dilakukan online to offline, kita melakukan flooding all channel and all segment,” imbuhnya.

Baca: Moto E3 Power Hanya Dijual Online di Indonesia

Sementara itu, Country Lead, Lenovo Mobile Business Group Indonesia Adrie R. Suhadi mengatakan Moto merupakan brand global yang memiliki banyak penggemar setia di seluruh dunia. Kembali hadirnya Moto di Tanah Air ini merupakan produk pabrikasi dalam negeri yang mengikuti prosedur aturan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN).

“Kami yakin kehadiran Moto E3 Power dan produk-produk Moto lain yang akan kami luncurkan di Indonesia. Di masa yang akan datang kita mengharapkan produk ini mendapat sambutan positif dari konsumen Tanah Air,” ujarnya.

Baca: Lebih Dekat dengan Android Moto E3 Power

Beberapa spesifikasi Moto E3 Power meliputi layar HD 5 inci, kamera utama 8 megapiksel, kamera selfie 5 megapiksel, RAM 2 GB, prosesor quad-core 64 bit, dan sistem operasi Android Marshmallow.

Embel-embel “Power” menunjukkan kemampuan baterai yang lebih mumpuni. Lenovo mengklaim baterai E3 Power cuma butuh diisi ulang selama 15 menit untuk ketahanan 5 jam. Untuk semua kemampuan itu, Motorola Moto E3 Power dibanderol Rp 1 jutaan.